Pada tulisan yang lalu –Khutbah Jum’at Masjid Al-Hidayah– telah dijelaskan empat harapan nabi Ibrahim AS terhadap keturunnya sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, yaitu agar diri, keluarga, dan keturunannya memiliki keimanan yang kuat kepada ALLAH SWT. Ternyata… selain itu juga seorang yang beriman harus memiliki kekuatan “maaliyyah” (harta). Dalam sebuah hadits dijelaskan, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

“Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad, dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta.…”

Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah karunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari ucapan para sahabat tersebut tentang pahala dan keutamaan besar yang diraih oleh orang-orang kaya pemilik harta yang menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji perbuatan mereka. Subhanallah… Beginilah jika kekayaan di tangan orang bertaqwa.

Berikut kami posting secara lengkap tulisan H. Jazuli Juwaini, M.A. yang berjudul “Saudagar di Era Salaf dan Khalaf”

————————————————————————————–

Dalam Ensiklopedi Muhammad Sebagai Pedagang, Afzalur Rahman memaparkan, Muhammad tumbuh dewasa di bawah asuhan Abu Thalib dan terus belajar mengenai bisnis perdagangan dari pamannya ini.  Dalam menggeluti profesinya sebagai pedagang, Nabi tak sekadar mencari nafkah yang halal guna memenuhi biaya hidup, tetapi juga untuk membangun reputasinya agar orang-orang kaya berdatangan dan mempercayakan dana mereka kepadanya.

Berbekal pengalamannya dalam berdagang dan reputasinya yang terkenal sebagai pedagang yang terpercaya dan jujur, beliau memperoleh banyak kesempatan berdagang dengan modal orang lain, termasuk di antaranya modal dari seorang pengusaha kaya raya Khadijah, yang kelak menjadi istrinya, dengan mahar 20 ekor unta.

Rasulullah telah menjadi pedagang ideal yang sukses dan memberi petunjuk bagaimana menjadi pedagang ideal dan sukses. Beliau selalu memegang prinsip kejujuran dan keadilan dalam berhubungan dengan para pelanggan. Muhammad SAW selalu mengikuti prinsip-prinsip perdagangan yang adil dalam setiap transaksi. Beliau juga selalu menasihati para sahabatnya untuk melakukan hal serupa.

Ketika berkuasa dan menjadi kepala negara Madinah, beliau telah mengikis habis transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktik yang mengandung unsur-unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan, dan pasar gelap. Nabi Muhammad juga melakukan standardisasi timbangan dan ukuran, serta melarang orang-orang mempergunakan standar timbangan dan ukuran lain yang kurang dapat dijadikan pegangan.

Berdagang merupakan sarana untuk meraih rezeki Allah dan mendapatkan kekayaan. Dan, menjadi kaya raya adalah impian semua orang. Sifat Allah Ar-Rozzaq (Maha Memberi Rizqi), Al-Ghoniy (Maha Kaya) dan Al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan) yang ditanamkan kepada manusia menjadikan manusia ingin menguasai kekayaan. Pada zaman keemasan Islam (khoirul qurun), para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  menguasai kekayaan dengan motivasi terbaik mereka, beribadah kepada Allah. Dan tentu saja, rizqi yang mereka terima, hanya yang halal saja.  Ciri mereka ada pada keteguhan,komitment syariah dalam setiap bisnis, akad, modal dan kerja keras dalam berproduksi serta menafkahkan harta waktu dan dirinya untuk mencapai ridha Allah, namun sangat hemat dalam konsumsi.

Betapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Demikian pula (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) ‘Utsman (bin ‘Affan) radhiyallahu ‘anhu dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu.

Banyak ayat Al-Quran dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi pujian terhadap orang yang memiliki harta dan menggunakannya untuk mencapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan), yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 37)

Imam Al-Qurthubi berkata, “Dianjurkan bagi seorang pedagang (pengusaha) untuk tidak disibukkan/dilalaikan dengan perniagaan (usaha)nya dari menunaikan kewajiban-kewajibannya. Oleh karenanya, ketika tiba waktu shalat fardhu, hendaknya dia (segera) meninggalkan perniagaannya (untuk menunaikan shalat), agar dia termasuk ke dalam golongan orang-orang (yang dipuji Allah Subhanahu wa Ta’ala) dalam ayat ini.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Orang-orang miskin (dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) pernah datang menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang (kaya) yang memiliki harta yang berlimpah bisa mendapatkan pahala (dari harta mereka), kedudukan yang tinggi (di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan kenikmatan yang abadi (di surga), karena mereka melaksanakan shalat seperti kami melaksanakan shalat dan mereka juga berpuasa seperti kami berpuasa, tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang mereka gunakan untuk menunaikan ibadah haji, umrah, jihad, dan sedekah, sedangkan kami tidak memiliki harta.…” Dalam riwayat Imam Muslim, di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah karunia (dari) Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (no. 807 dan 5970) dan Muslim (no. 595).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari ucapan para sahabat tersebut tentang pahala dan keutamaan besar yang diraih oleh orang-orang kaya pemilik harta yang menginfakkannya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan di akhir hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji perbuatan mereka. Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar –ketika menjelaskan hadits ini– berkata, “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) lebih utamanya orang kaya yang menunaikan hak-hak (Allah Subhanahu wa Ta’ala) pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah (seperti yang disebutkan dalam hadits di atas) hanya bisa dilakukan oleh orang kaya.” (Kitab Fathul Bari: 3/298)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

 “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول :  اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

 “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina(Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.

Karena itu bagi seorang muslim memiliki harta sebanyak-banyak sangat dianjurkan, tapi Islam mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan itu bukanlah tujuan, tapi sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Dan telah menjadi sebuah kenyataan bahwa perjuangan tidak akan berjalan dengan optimal tanpa dibarengi dengan ketersediaan harta benda.

Rasulullah selain dengan harta beliau sendiri ditambah dengan harta ummul mukminin Khadijah menyumbangkan harta untuk perjuangan kaum muslimin. Khalifah Abu Bakar hampir seratus persen menyumbangkan harta kekayaan untuk Islam, Amirul mukminin Umar bin Khattab dengan perjuangan Islam berkontribusi lima puluh persen dari harta kekayaannya, dan yang paling melegenda sahabat nabi paling kaya Abdurrahman bin Auf tidak pernah berhenti bersedekah dengan hartanya untuk Islam sampai ajal menjemputnya. Justru dengan harta bendanya inilah beliau menjadi salah satu sahabat yang dijamin rasulullah masuk surga. Pendek kata, semua perjuangan Islam dari dulu hingga sekarang tidak pernah lepas dari dukungan materi. Karena itu mengumpulkan harta benda untuk tercapainya sebuah perjuangan menjadi wajib hukumnya. Dan, ternyata semua harta benda para sahabat yang memiliki kontribusi besar dalam memperjuangkan Islam itu didapat dari hasil perniagaan atau wirausaha.

Meneladani Saudagar Salaf dan Kholaf

Para ulama salaf dan kholaf adalah sebaik-baik teladan dalam semua kebaikan dan keutamaan dalam agama ini, tidak terkecuali dalam memanfaatkan harta dan kekayaan untuk meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara para ulama salaf dan kholaf yang terkenal dengan sifat ini adalah:

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (632-634 M)

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang mempunyai nama lengkap Abdullah Abi Quhafah At-Tamimi. Pada zaman pra Islam ia bernama Abu Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi SAW. menjadi Abdullah. Beliau lahir pada tahun 573 M, dan wafat pada tanggal 23 Jumadil akhir tahun 13 H bertepatan dengan bulan Agustus 634 M, dalam usianya 63 tahun, usianya lebih muda dari Nabi SAW 3 tahun. Diberi julukan Abu Bakar atau pelopor pagi hari, karena beliau termasuk orang laki-laki yang masuk Islam pertama kali. Sedangkan gelar Ash-Shiddiq diperoleh karena beliau senantiasa membenarkan semua hal yang dibawa Nabi SAW terutama pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Abu Bakar adalah putra dari keluarga bangsawan yang terhormat di Makkah. Semasa kecil dia merupakan lambang kesucian dan ketulusan hati serta kemuliaan akhlaknya, sehingga setiap orang mencintainya. Pengabdian Abu Bakar untuk Islam sangatlah besar. Ia menyerahkan semua harta bendanya demi kepentingan Islam serta mengajak beberapa sahabatnya seperti Zubair bin Awwam, utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf serta memerdekakan Bilal bin Rabah. Ia selalu mendampingi Rasulullah dalam mengemban misi Islam sampai Nabi SAW wafat.

Abu Bakar adalah bangsawan dan saudagar sejak sebelum masuk Islam. Perniagaannya melampaui negeri-negeri jiran. Maka tak heran ketika memeluk Islam Ia menjadi salah satu penopang dakwah dan jihad dengan kelebihan harta yang dimilikinya, selain karena ketokohan dan kebangsawanannya di kalangan Quraisy.

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Abu Bakar dengan pengorbanan harta membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar As-Siddiq memiliki 9 toko yang semuanya habis dibuat untuk tegaknya agama islam. Beberapa budak yang ia bebaskan antara lain : Bilal bin Rabbah, Abu Fakih, Ammar, Abu Fuhaira, Lubainah, An Nahdiah, Ummu Ubays, dan Zinnira.

Soal kekayaan Abu Bakar dan kedermawanannya tersebut diakui oleh sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zeidan. Jurji punya komentar menarik. Katanya, “Zaman khalifah-khalifah yang alim adalah merupakan keemasan Islam. Khalifah-khalifah itu terkenal karena kesederhanaan, kejujuran, kealiman, dan keadilannya. Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia memiliki 40.000 dirham, jumlah yang sangat besar waktu itu, akan tetapi ia habiskan semua, termasuk uang yang diperolehnya dari perdagangan demi memajukan agama Islam.

Abu Bakar benar-benar menjadi penopang Rasulullah dalam berdakwah, termasuk dalam hal ekonomi. Aisyah berkata, “Abu Bakar menginfakkan 4.000 dirham kepada Nabi.” Masih kata Aisyah, “Ketika meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan satu dinar dan tidak pula satu dirham pun.” [Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqaini].

Beliau selalu mengiringi Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama di Makkah, bahkan dia lah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi di dalam gua dalam perjalanan hijrah hingga sampai ke kota Madinah. Di samping itu beliau juga mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rosulullahu shalallahu ‘alaihi wa sallam baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.

Allah swt berfirman, ”Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia berkata kepada temannya,’Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah berserta kita.”’[Q.S.At-Taubah(9):40]’”

Para ahli tafsir sepakat bahwa salah seorang dari dua orang itu adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra dan dialah orang yang dimaksudkan dengan temannya.

Pada saat Rasulullah SAW mengumumkan agar kaum Muslimin menyumbangkan harta mereka untuk dana perang melawan Romawi di Tabuk, Abu Bakar membawa seluruh hartanya kepada Rasulullah SAW. “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” tanya Rasulullah kepada Abu Bakar. “Allah dan Rasul-Nya?” jawab Abu Bakar tanpa keraguan sedikitpun.

Inilah totalitas hati Abu Bakar. “Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tak menyisakan apapun melainkan apa yang ia cintai,” demikian komentar Imam al-Ghazali tentang kisah beliau ini.

Totalitas hati itu membawa Abu Bakar SAW menjadi orang yang paling makrifat kepada Allah di antara umat Rasulullah SAW yang lain. Abu Bakar Radhiallâhu’anhu mengorbankan segalanya untuk Allah dan Rasulullah SAW. Padahal, sebelumnya Abu Bakar adalah saudagar yang disegani di Quraisy.

Abdullah bin Umar bercerita: Suatu ketika Rasulullah SAW duduk. Di samping beliau ada Abu Bakar memakai jubah kasar, di bagian dadanya ditutupi dengan tambalan. Malaikat Jibril turun menemui RasulullahSAW dan menyampaikan salam Allah kepada Abu Bakar.

“Hai Rasulullah, kenapa aku lihat Abu Bakar memakai jubah kasar dengan tambalan penutup di bagian dadanya?” tanya Malaikat Jibril.
“Ia telah menginfakkan hartanya untukku sebelum Penaklukan Makkah.”

Sabda beliau, “Sampaikan kepadanya salam dari Allah dan sampaikan kepadanya: Tuhanmu bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?”

Rasulullah SAW menoleh kepada Abu Bakar. “Hai Abu Bakar, ini Jibril menyampaikan salam dari Allah kepadamu, dan Allah bertanya: Apakah engkau rela dengan kefakiranmu ini ataukah tidak rela?” Abu Bakar menangis:”Apakah aku akan murka kepada (takdir) Tuhanku!? (Tidak!) Aku rida dengan (takdir) Tuhanku, Aku rida akan (takdir) Tuhanku.”

Semua miliknya habis untuk Allah dan Rasulullah SAW. Inilah totalitas cinta. Cinta yang mengorbankan segalanya untuk Sang Kekasih, tak menyisakan apa-apa lagi selain Dia di hatinya. “Orang yang merasakan kemurnian cinta kepada Allah, maka cinta itu akan membuatnya berpaling dari pencarian terhadap dunia dan membuatnya merasa tidak asyik bersama dengan segenap manusia.” Demikian untaian kalimat tentang tasawuf cinta yang pernah terucap dari mulut mulia Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq.

2. Umar bin Khatab (581-644M)

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy.

Umar bin Khatab adalah salah satu sahabat dekat Rasulullah SAW dan khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash shiddiq r.a. Beliau termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Dijuluki sebagai Umar Al Faruq (sang pembeda) karena ketegasannya dalam menegakkan kebenaran. Seorang yang keras namun berhati selembut salju, administrator dan peletak landasan manajemen ekonomi negara yang cemerlang.

Semenjak menjadi khalifah hidup sangat sederhana, meskipun  kaya raya. Beliau hendak memberikan teladan yang baik bagi kaum muslimin tentang  konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.

Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan (70.000x40juta).

Umar adalah khalifah yang sangat mementingkan usaha dan kerja yang produktif. Ia menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah tertinggi. Ia pernah berbetuah: “Aku tetapkan kalian tiga bepergian: berhaji, berjuang di jalan Allah, dan berunta demi mencari sebagian karunia Allah.” Bahkan ia menganggap syahid seseorang yang meninggal dalam perjalanan terakhir.

Suatu waktu, Umar menanyakan nafkah seseorang yang tekun beribadah di masjid. Orang itu menjelaskan, “Aku memiliki saudara yang mencari kayu. Lalu dia mendatangiku dan mencukiku.” Lalu Umar berkata, “Berarti, saudara engkau lebih beribadah daripada engkau.”

Masih soal kerja. Umar sering menasihati, “Cukupilah dirimu, niscaya akan lebih terpelihara agamamu dan lebih mulia dirimu.” Bukan saja menasihati, Umar juga mempraktekkannya setiap hari. Begitu selesai sholat shubuh, Umar selalu bergegas menuju kebunnya di Juruf. Ia berusaha mencukupi dirinya.

Umar memahami dengan baik arti penting ekonomi umat. Salah satu buktinya, ia mengutamakan pembangunan pasar dan masjid di daerah-daerah taklukan. Ia juga mengizinkan Utsman bin Abul Ash mengelola lahan tidur. Ia juga kerap menasihati para pekerja dan pegawai agar memiliki asset produktif yang dapat menghasilkan uang terus menerus. Umar juga menjajak orang-orang untuk berdagang. Nasihatnya, “Berdagang itu merupakan sepertiga harta.”

Umar sendiri memiliki 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.

Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Usman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah!

3. ‘Utsman bin ‘Affan (574-656M)

Beliau adalah salah seorang dari Al-Khulafa Ar-Rasyidin dan sepuluh orang shahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau radhiyallahu ‘anhu sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanan. Hartanya melimpah. Namun hartanya tidak untuk memuaskan pribadi dan keluarganya. Hartanya ia infaqkan untuk da’wah dan jihad fi sabilillah. Ia menyerahkan bagian terbesar kekayaannya itu bagi kepentingan agama dan membantu orang kekurangan serta membeli sahaya-sahaya Muslim yang disiksa oleh tuannya dan memerdekankannya.

Dia hidup dari perdagangan dan berhasil menyerahkan bagian terbesar penghasilannya itu untuk kepentingan agama. Sejarah sangat mencatat, sewaktu Nabi Muhammad SAW kekurangan dana untuk membiayai pasukan besar menuju Tabuk pada tahun 9 H./631 M., yakni pembenturan pertama dengan pihak Bizantium (Roma Timur), maka Abu Bakar datang menyerahkan seluruh hartanya yang pada saat itu berjumlah 40.000 dirham.Umar menyumbangkan separuh dari hartanya, Abdurrahman Bin Auf menyerahkan 200 goni gandum. Ashim ibn Adi menyumbangkan 70 goni tamar. Sedangkan Utsman ibn Affan memikul sepertiga dari keseluruhan biaya pasukan besar itu, dengan menyerahkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda dan uang tunai sebesar 1.000 dinar.

Artinya, jika 2 dinar sama dengan 200 dinar yang pada masa Nabi Muhammad itu sama dengan 5 ekor unta ataupun 40 ekor domba ataupun 10 goni gandum atau tamar. Jadi bayangkan betapa besar kerelaan berkorban pada masa itu.

Sumur Raumah merupakan sebuah sumur yang dijadikan oleh para penduduk Madinah sebagai sumber air minum. Tadinya, sumur itu adalah milik seorang laki-laki Yahudi yang hidup di bawah pemerintahan kaum Muslim. Suatu ketika, Nabi SAW bersabda: “Siapakah yang mau membeli sumur Raumah ini, lalu dia memberikannya kepada kaum Muslimin, dimana dia tidak mengharapkan imbalan sedikitpun dari mereka?”

Utsman pun keluar dari barisan kaum Muslimin, lalu dia pergi untuk menemui orang Yahudi itu dengan maksud untuk membeli sumur tersebut darinya. Namun orang Yahudi itu menolak untuk menjual sumurnya, kecuali jika Utsman mau membeli separohnya dengan harga dua belas ribu dirham. Saat itu, uang sebanyak itu dapat menjadi modal untuk lima orang pedagang. Utsman setuju dengan tawaran orang itu, lalu dia membayar uang dalam jumlah tersebut dengan ketentuan bahwa satu hari sumur itu menjadi milik Utsman dan hari berikutnya menjadi milik orang Yahudi tersebut. Pada hari dimana sumur itu menjadi milik Utsman, kaum Muslimin mengambil air minum dari sumur itu, lalu mereka menyimpan sebagian air untuk persediaan hari berikutnya. Ketika orang Yahudi itu mengetahui bahwa dirinya tidak dapat lagi menjual air, dia pun pergi ke rumah Utsman. Lalu dia menjual separoh lainnya seharga delapan ribu dirham.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memperluas Mesjid Nabawi, ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menyumbangkan hartanya untuk membeli tanah perluasan mesjid tersebut.

Sebuah peristiwa lagi, yang dicatat sejarah yaitu ketika wilayah Hijaz pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar diancam bahaya kelaparan karena panen gandum di Arabia itu banyak yang rusak, maka Khalifah Abu Bakar pada saat itu dihadapkan pada situasi yang sangat gawat. Gandum kering di pasaran, persediaan penduduk sudah sangat terbatas.

Pada suatu pagi, datanglah berita gembira bahwa kafilah dagang kepunyaan Utsman bin Affan tiba dari Syam, terdiri atas 1.000 ekor unta, membawa muatan gandum dan bahan makanan lainnya. Kaum saudagar segara mendatangi kediaman Utsman ibn Affan dan hendak meminta Utsman untuk menjual barang dagangannya, untuk dibagikan kepada orang-orang melarat.

Pada saudagar menawarkan beberapa harga, tapi Utsman tetap menolak kemudian dia berkata: “ Demi Allah, dan kalian semuanya menjadi saksi, bahwa seluruh gandum dan bahan makanan yang dibawa kafilah dagang itu adalah sedekah dariku kepada orang melarat di tanah Hijaz.”

Demikianlah sifat kedermawanan Utsman ibn Affan itu. Setiap Unta yang beliau sedekahkan membawa setengah ton muatan yaitu 1/4  ton di kiri dan kanan punggungnya. Itu merupakan muatan minimal. Berarti beliau menyumbangkan 500 ton gandum dan bahan pangan lainnya. Bayangkan serta bandingkan sedekah beliau dengan uang.

Utsman sendiri, sekalipun ia seorang hartawan besar, tapi kehidupannya sangatlah sederhana sesuai dengan garis hidupnya yang digariskan Khalifah Abu Bakar RA maupun Khalifah Umar RA. Karena Utsman sama sekali tidak keberatan dan ikhlas menyumbangkan harta kekayaannya itu demi kepentingan agama maupun kepentingan masyarakat yang melarat pada masa itu.

Subhanaallah, itulah sosok Utsman yang sangat dermawan dan rela mengorbankan hartanya demi kepentingan umat Islam. Selain kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan kedermawanan Utsman bin Affan. Mudah-mudahan kita semua dapat menauladani sikap dermawan Utsman tersebut.

4.    ‘Abdurrahman bin ‘Auf Al-Qurasyi (wafat tahun 32 H)

Beliau adalah salah seorang dari sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga merupakan shahabat yang sangat terkenal dengan kekayaan dan kedermawanan.

Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum muslimin. Di kota Madinah yang  dulunya bernama Yatsrib, Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan orang-orang Anshar. Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ Al-Anshary.

Ia memang selalu ikut dalam medan jihad. Namun ia lebih dikenang sebagai sahabat yang luar biasa dalam menjihadkan hartanya.

Pada suatu hari, Sa’ad berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, “Wahai saudaraku Abdurrahman, saya termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas dan dua orang pembantu. Pilihlah salah satu di antara dua bidang kebunku itu. Kuberikan kepadamu mana yang kau sukai. Begitu juga dengan salah seorang di antara kedua pembantuku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi, lalu aku kawinkan kau dengannya.”

“Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada saudara, kepada keluarga saudara, dan kepada harta saudara. Saya hanya minta tolong untuk menunjukkan dimana letaknya pasar di Madinah ini?” jawab Abdurrahman  bin ‘Auf.

Lalu Sa’ad menunjukkan pasar kepadanya. Mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Sejak saat itu, kehidupan Abdurrahman bin ‘Auf pun makmur. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya, sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.

Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.

Suatu ketika, Rasulullah berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum muslimin. Ia berdiri di tengah-tengah para sahabat seraya bersabda, “Jika kalian ada yang mau bershadaqah, maka bershadaqahlah. Saya ingin mengirim satu pasukan ke medan perang!” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya. Beberapa saat kemudian ia kembali ke hadapan Rasulullah. “Wahai Rasulullah, saya mempunyai uang empat ribu dinar. Dua ribu saya shadaqahkan karena Allah, dan dua ribu saya tinggalkan untuk keluarga saya.” “Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kau berikan, dan semoga Allah memberkahi juga harta yang kau tinggalkan untuk keluargamu.”

Kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf dapat juga dilihat ketika berlangsung perang Tabuk, yaitu perang yang terakhir kalinya diikuti Nabi. Tatkala Rasulullah bersiap-siap menghadapi pasukan Romawi dalam perang ini, ia membutuhkan dana dan tentara yang tidak sedikit. Sedang saat itu Madinah tengah dilanda musim panas. Ditambah lagi perjalanan ke Tabuk sangat jauh dan sulit. Sementara dana yang tersedia hanya sedikit. Banyak di antara kaum muslimin yang kecewa dan sedih, karena ditolak Rasulullah menjadi tentara lantaran kendaraannya tidak menyukupi.

Sebagai ‘gantinya’, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fii sabilillah. Dengan patuh dan setia, mereka pun memenuhi seruan Nabi saw. yang mulia itu. Abdurrahman bin ‘Auf turut mempeloporinya dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas.

Melihat itu, Umar bin Khathab terkejut dan segera membisiki Rasulullah, “Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggali uang belanja sedikit pun untuk keluarganya.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin ‘Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mu’minin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengawalnya bila mereka bepergian. Seperti hendak melaksanakan haji, Abdurrahman turut bersama-sama mereka. Dia yang membantu mereka naik dan turun dari haudaj (sekedup yaitu tenda kecil yang berada di punggung unta tunggangan). Itulah salah satu tugas khusus yang ditangani Abdurrahman. Dia pantas bangga dan bahagia dengan tugas dan kepercayaan yang dilimpahkan para ibu orang-orang mukmin itu kepadanya.

Ia juga pernah membeli sebidang tanah seharga empat ribu dinar. Lalu tanah itu dibagi-bagikan seluruhnya kepada Bani Zuhrah dan istri Rasulullah. Ketika jatah Aisyah disampaikan kepadanya, ia pun bertanya,” Siapa menghadiahkan tanah itu buatku?” “Abdurrahman bin ‘Auf.” Aisyah berkata, “Rasulullah saw pernah bersabda, “Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar.”

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga Abdurrahman menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Perniagaannya selalu meningkat dan berkembang. Kabilah dagangnya terus-menerus hilir mudik, dari dan ke Madinah mengangkut gandum, tepung, minyak, pakaian, barang pecah-belah, wangi-wangian dan segala kebutuhan penduduk.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah salah seorang sahabat yang disebut-sebut dijanjikan masuk surga, sebagaimana disaksikan Aisyah.

Pada suatu saat, iring-iringan kabilah dagang Abdurrahman yang terdiri dari tujuh ratus unta bermuatan penuh tiba di Madinah. Semuanya membawa pangan, sandang dan barang-barang kebutuhan penduduk. Ketika rombongan masuk kota, bumi seolah-olah bergetar! Suara gemuruh dan hiruk-pikuk terdengar sehingga membuat Aisyah bertanya, “Suara apa yang hiruk pikuk itu?” “Kabilah Abdurrahman!” jawab seseorang, memberi tahu Aisyah.

“Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya bagi Abdurrahman dengan baktinya di dunia serta pahala yang besar di akhirat. Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan merangkak (karena surga sudah dekat sekali kepadanya),” kata Aisyah. Sebelum menghentikan iring-iringan unta, salah seorang yang mendengar berita Aisyah itu lantas menemui Abdurrahman. Mendengar berita itu, seakan tak percaya ia langsung bergegas menemui Aisyah. “Wahai Ummahatul Mukminat, apakah benar engkau mendengar ucapan itu dari Rasulullah?” “Ya, saya mendengarnya sendiri!”

Abdurrahman melonjak kegirangan. “Seandainya saya sanggup, saya akan memasukinya sambil berjalan. Sudilah engkau menyaksikan, kabilah ini dengan seluruh kendaraan dan muatannya kuserahkan untuk jihad fii sabilillah,” yakinnya mantap.

Sejak saat itu, semangat Abdurrahman semakin memuncak dalam mengorbankan kejayaan di jalan Allah. Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangannya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham perak. Kemudian menyusul juga 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu diserahkan 500 ekor kuda kepada para pejuang. Sesudah itu 1.500 ekor unta untuk pejuang-pejuang yang lain.

Tatkala hampir meninggal dunia, Abdurrahman memerdekakan sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian mewasiatkan supaya memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing mantan pejuang perang badar yang berjumlah tidak kurang dari 100 orang. Dia juga berwasiat  agar memberikan hartanya yang paling mulia untuk ibu-ibu orang mukmin, sehingga Aisyah pun sering mendoakannya, “Semoga Allah memberinya minum dengan minuman dari telaga Salsabil!”

Di samping itu, dia meninggalkan warisan juga untuk keluarganya sejumlah harta yang hampir tak terhitung banyaknya. Dia meninggalkan kira-kira 1.000,- ekor unta, 100,- ekor kuda, 3.000,- ekor kambing.  Dia beristri empat orang. Masing-masing mendapat bagian khusus 80.000. Dia juga meninggalkan emas dan perak, yang kalau dibagi-bagikan kepada ahli warisnya, cukup menjadikan seorang ahli warisnya kaya-raya. Meski begitu, jiwanya tetap penuh iman, takwa, dan sederhana. Saat ia berada di tengah para budaknya, orang tidak dapat membedakan di antara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak.

Imam Az-Zuhri berkata, “Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah bersedekah dengan separuh dari harta beliau (yaitu sebesar) empat ribu dinar, lalu beliau bersedekah (lagi) dengan (harta sebesar) empat puluh ribu dinar. Kemudian beliau menanggung (biaya seharga) lima ratus ekor kuda (untuk keperluan berjihad) di jalan Allah. Setelah itu, beliau menanggung (biaya seharga) lima ratus ekor unta (untuk keperluan berjihad) di jalan Allah. Sebagian besar hasil kekayaan beliau (diperolehnya) dari (usaha) perniagan.

Abdurrahman Bin Auf  sangat mengerti konsep passive income. Sehingga sekalipun ia berbisnis maka ia tetap bisa aktif berperang. Ia pernah menjual tanahnya 40 ribu Dinar (88 miliar) untuk dibagikan kepada keluarganya dari bani zuhrah, kepada ummul mukminin dan fakir miskin. Ia juga pernah menyumbangkan 500 kuda perang untuk kepentingan pasukan perang. Dalam satu pertemuan Abdurrahman Bin Auf berinfak 40 ribu Dinar atau setara dengan 88 miliar. Ia juga pernah menyumbangkan seluruh dagangannya kepada penduduk madinah yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota madinah. Selain itu, tercatat juga Abdurrahman Bin Auf telah menyumbangkan dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan anatara lain 40 ribu Dirham (sekitar 8,8 miliar), 200 uqiyah emas (sekitar 24 miliar), 500 ekor kuda, dan 1500 ekor unta.

Sebelum meninggal beliau mewariskan 50 ribu Dinar (110 miliar) untuk kepentingan jihad dijalan Allah, 400 Dinar (Rp 880 juta) per orang untuk veteran perang badar yang jumlahnya tidak kurang 100 orang (total 88 miliar), bahkan Ustman Bin Affan pun mendapat bagiannya. Utsman ra berkata hartanya halal dan bersih, memakannya akan membawa keselamatan dan berkah. Ketika meninggal di usia 72 tahun masih meninggalkan 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3000 ekor kambing, dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar (Rp 176 miliar). padahal warisan istri hanya mendapat 1/4 dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman Bn Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 56.320 triliun. Itulah kehidupan Abdurrahman Bin Auf, seorang yang kaya raya namun tak dilenakan hartanya. seluruhnya untuk mencari ridho Allah.

Berbahagialah Abdurrahman bin ‘Auf dengan ribuan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah. Menjadi sahabat yang tiada segan dan tak pernah berpikir untuk memberi walau sesaat.

5. Zubair bin Awwam  (wafat 36 H/656 M)

Az-Zubair bin Al-‘Awwam masuk Islam dalam usia lima belas tahun dan ia hijrah dalam usia delapan belas tahun sesudah menderita penganiayaan dan siksaan bertubi-tubi karena mempertahankan keimanannya. Pamannya sendirilah yang menyiksanya. Azzubair digulung ke dalam tikar, lalu kakinya digantung diatas dan dibawah kepalanya ditaruh api yang membara. Pamannya berkata, “Kembali kamu kepada penyembahan berhala !” Tapi Azzubair menjawab, “Saya tidak akan kembali kafir lagi sama sekali.”

Zubair  merupakan salah seorang “mubasyirin bil-jannah” (sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga). Beliau merupakan salah seorang pejuang yang hebat. Bila diserukan “Mari berjihad fi Sabilillah”, maka ia akan segera menjadi orang pertama yang datang menyambut seruan itu. Oleh karena itulah Azzubair selalu mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah SAW. Selama hidupnya ia tidak pernah absen berjihad.

Rasulullah SAW merasa bangga terhadap Azzubair, dan ia bersabda : “Setiap nabi mempunyai pengikut pendamping yang setia (Hawari) dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam.” Kecintaan Rasulullah SAW kepada Azzubair bukan hanya disebabkan ia anak bibi Rasulullah SAW tetapi karena Azzubair memang seorang pemuda yang setia, ikhlas, jujur, kuat, berani,murah tangan dan telah menjual diri dan hartanya kepada ALLAH. Dia adalah seorang pengelola perdagangan yang berhasil dan hartawan, tapi hartanya selalu diinfakan untuk perjuangan Islam. Kekayaan Zubair bin Awwam r.a terdiri dari:

  • 50.000 dinar atau sekitar 60 Milyar IDR
  • 1000 ekor kuda perang
  • 1000 orang budak (yang kemudian dimerdekakan)

Keberhasilan Zubair bin Awwam dalam perniagaan didukung oleh sifat yang sangat lekat pada dirinya yaitu kejujuran dan amanah. Zubair tidak pernah mau menerima uang dari semua orang dalam bentuk deposit (simpanan/titipan). Beliau lebih suka menerimanya dalam bentuk pinjaman. Abdullah bin Zubair menceritakan bahwa bila ada orang datang membawa uang untuk disimpan pada ayahnya, maka ayahnya takut jika deposit uang itu akan hilang. Tindakan Zubair ini menunjukkan dua hal yang dapat ditarik hikmahnya. Pertama, dengan mengambil uang tersebut sebagai pinjaman, beliau mempunyai hak untuk menggunakannya; kedua, jika uang itu dalam bentuk pinjaman maka Zubair berkewajiban untuk mengembalikannya dengan utuh seperti semula. Melalui sifat jujur dan amanah tersebut, Zubair banyak mendapatkan kepercayaan untuk mengelola modal dalam perniagaan.

6. Al-Hasan Al-Bashri (642-728)

Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa, wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H.

Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya. Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya. Beliau meriwayatkan dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits. Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis pada zaman jahiliyah.

Al-Hasan banyak meneladani Amirul mu’minin Ali bin Abi Thalib RA. Dia meneladaninya dalam kesalihan agama, kebagusan ibadahnya dan zuhudnya dari dunia dan perhiasannya. Dia terpesona oleh bayannya yang bersinar, hikmahnya yang mengesankan, perkataannya yang padat dan nasehatnya yang menggetarkan hati. Maka kemudian terbentuklah pada dirinya gambaran orang yang diteladaninya itu dalam hal ketakwaan, ibadah, retorika dan kefasihan berbicara.

Ketika al-Hasan telah berumur empat belas tahun, dan memasuki usia remaja, dia pindah bersama ayahnya ke Bashrah dan menetap di sana bersama keluarganya. Dan dari sinilah kemudian kenapa di akhir namanya dicantumkan “al-Bashri”, yaitu nisbah kepada kota Bashrah sehingga dikenal banyak orang dengan sebutan Al-Hasan Al-Bashri.

Waktu al-Hasan pindah ke sana, kota Bashrah merupakan benteng ilmu terbesar di negeri Islam. Dan masjidnya yang agung penuh dengan pembesar-pembesar sahabat dan tabi’in yang pindah ke sana. Kajian-kajian ilmu dengan aneka ragamnya meramaikan ruangan masjid dan mushallanya.

Hasan Al Bashri sebagai tokoh utama Sufism pada periode awal. Pada mulanya adalah seorang saudagar berbagai perhiasan permata, sehingga orang mengenalnya sebagai Hasan Permata. Karena permata yang diperdagangkannya bermutu tinggi, dia memiliki pelanggan dari kalangan atas kerajaan dan sempat dekat dengan Perdana Menteri Kerajaan Byzantium.

Meski kaya raya, Imam Hasan al-Basri banyak tinggal di masjid, beribadah dan berdzikir memuji dan mengakui kebesaran Illahi. Kegiatannya sehari-hari lebih banyak mendekat pada amal-shalih untuk kemaslahatan ummat dari pada mengejar keuntungan bagi diri sendiri. Masyarakat sekitar pada waktu itu mengagumi dan menaruh hormat kepadanya lebih dari sebelumnya dan para ulama menyatakan bahwa Hasan Bashri adalah perintis dan pelopor Sufi pada jamannya.

Al-Hasan telah menetap di masjid dan mengikuti secara khusus pengajian yang dipandu Abdullah bin Abbas, seorang ‘Alim umat Muhammad. Darinya dia belajar tafsir, hadits dan qiraa`at kepadanya, plus fiqih, bahasa, sastra dan lain-lainnya baik kepadanya ataupun kepada ulama selainnya. Sehingga dia menjadi seorang ‘alim yang sempurna, dan ahli fiqih yang tsiqah.

Maka orang-orang berdatangan kepadanya dan mengambil ilmunya yang demikian matang. Mereka berkerumun di sampingnya untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya yang dapat melunakkan hati yang keras dan menyucurkan air mata maksiat. Mereka menghafal hikmahnya yang bak mencengkeram akal. Mereka mencontoh sirahnya yang aromanya lebih harum daripada minyak kasturi. Berita tentang al-Hasan al-Bashri telah menyebar di berbagai pelosok negeri, dan namanya demikian agung di kalangan manusia.

Berita tentang ulama itu akhirnya sampai juga kepada seorang pemuda lajang yang sedang bersemangat menuntut ilmu. Pemuda itu sangat tertarik untuk belajar tentang hakikat zuhud kepada ulama yang terkenal itu.

Segera pemuda itu merencanakan perjalanan ke baghdad, bekal dipersiapkan dan pertanyaan-pertanyaan pun telah di tulis untuk diajukan kepada ulama calon gurunya itu. akhirnya berangkatlah pemuda itu dengan hati yang gembira dan perasaan yang beraduk dengan penasaran. “Seperti apakah ulama zuhud yang terkenal itu…?” pikirnya.

Bertanya disetiap simpang jalan, berlari kecil mengejar sesorang jika ia melihat seorang berpakaian seperti seorang ahli ibadah, bertanya-tanya dalam hati dan tentu saja beristirahat ketika ia lelah. itulah yang dilakukannya diperjalanan.

Tibalah pemuda itu disebuah pasar di tepi kota. Pemuda itu bertanya pada seorang pedagang: “Pak, apakah bapak tahu di mana rumah syaikh Hasan Al-Bashri?”

Pedagang itu menjawab: “Hampir semua orang di sini tahu tentang beliau, Rumahnya di ujung belokan sebelah kanan jalan”.

Pemuda itu langsung bergegas menuju alamat yang pedagang tadi sebutkan, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat sebuah rumah yang sangat besar dengan pagar yang tinggi lengkap dengan penjaga dan pos satpamnya.

Pemuda itu bergumam: “masa iya seorang zuhud mempunyai rumah sebesar ini dengan para pembantu yang banyak? ah, jangan-jangan aku ditipu oleh orang-orang yang menyebarkan berita tentangnya”. pemuda itu mulai ragu, ia membalikkan badannya berniat ingin pulang.

Ketika baru saja melangkahkan kakinya, seorang kusir memanggilnya.

Kusir: “Hai Pemuda, apakah engkau ingin bertemu dengan Syaikh Hasan Al-Bashri?”

Pemuda: “Tadinya aku berharap demikian, aku ingin sekali belajar tentang zuhud kepadanya, tapi setelah aku melihat apa yang dia punya, harta yang melimpah dan pengawal serta pembantu rumahnya yang banyak, lebih baik aku pulang saja”.

Kusir: “Tuan memang sedang tidak ada. Tapi, Biarlah aku mengantarmu sambil kita berjalan-jalan dahulu mengelilingi kota baghdad agar perjalananmu sedikit tak sia-sia”

Pemuda: “Baiklah, Terima kasih tumpangannya”.

Kusir: “Silakan naik, di dekat tempat duduk ada gelas berisi air, tolong engkau pegang dengan kedua tanganmu agar tak tumpah”.

Pemuda: “Baiklah…”

Kusir tersebut membawa pemuda itu berkeliling kota baghdad yang gemerlap, kota 1001 malam yang sangat mengesankan, kota ilmu pengetahuan yang selalu ingin dikunjungi setiap penuntut ilmu.

Akhirnya mereka sampai diperbatasan kota.

Kusir: “Bagaimana pendapatmu tentang kota baghdad? Indah dan ramai sekali bukan…?”

Pemuda: “Bagaimana aku bisa melihat sedangkan mataku tertuju pada gelas yang aku pegangi. Aku sama sekali tak sempat melihat keluar untuk menyaksikan indahnya kota baghdad!”

Kusir: “Itulah perumpamaan zuhud, walaupun kau tahu gemerlapnya dunia namun kau tetap memfokuskan segalanya kepada Allah semata”

Pemuda tersebut terkejut dengan perkataan sang kusir, ternyata pembantu rumah Hasan Al-Bashri saja sudah dapat memberikan apa yang dia cari tentang hakikat zuhud yang sebenarnya. Dia mulai menitikkan air mata karena kesombongannya, karena segala sangkaan buruk kepada sang ulama.

Bahwa ternyata Zuhud bukan paksaan dan bukan pula karena kepepet. Zuhud adalah pilihan hidup. Demikianlah terungkap betapa kekayaan harta yang dimiliki Hasal Al-Basri tidak menghalanginya untuk tetap menampilkan sikap hidup yang sederhana dengan akhlak yang terbaik.

Dalam sebuah buku yang khusus mencatat perbuatan-perbuatan kaum sufi, Ibn Qayyîm meriwayatkan: Sekelompok perempuan keluar pada hari `id dan berusaha melihat orang-orang. Mereka ditanyai, “Siapakah orang paling elok yang kalian lihat pada hari ini?” Mereka menjawab, “Itu syekh yang mengenakan turban hitam.” Yang mereka maksudkan adalah Hasan al-Bashri.

Hafiz hadis Abu Nuaim al-Isfahani (w. 430H) menyebutkan bahwa murid al-Hasan, yaitu Abdul Wahid Ibn Zaid (w. 177H), adalah orang pertama yang membangun khâniqa sufi, atau rumah singgah sekaligus tempat belajar di Abadan di perbatasan Iran dan Iraq di masa sekarang.

Dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah ra., ada sepuluh bencana yang bakal terjadi disebabkan perbuatan ghibah, yaitu:

  1. Orang yang berghibah akan menjadi jauh dari rahmat Allah,
  2. Para malaikat tidak mau mendekatinya,
  3. Si pengghibah akan mengalami rasa sakit yang dahsyat ketika menghadapi sakaratul maut,
  4. Ia juga akan menjadi semakin lebih dekat kepada neraka,
  5. Semakin menjadi jauh dari surga,
  6. Si pengghibah akan mengalami siksa kubur yang sangat pedih,
  7. Amal kebaikannya akan dihapuskan,
  8. Ruh Rasulullah akan dibuat sakit oleh perbuatan ghibahnya itu,
  9. Ia akan memperoleh kemurkaan Allah dan
  10. Ia pun akan orang yang pailit atau bangkrut ketika berada di hari penghisaban. Hal ini disebabkan oleh amal perbuatannya yang baik telah dibagikan kepada orang-orang yang dighibahi dan justru ia akan memperoleh amal perbuatan buruk dari orang-orang yang dighibahinya.

Berdasarkan hadis itulah, maka Hasan Al-Bashri, salah seorang tokoh sufi dan wali terbesar yang cukup terkenal pada zamannya, justru memberikan hadiah kepada siapa saja yang menghibahinya. Pada suatu hari, Hasan Al-Bashri mendapat kabar dari salah seorang  kawannya kalau ia telah dighibahi oleh seseorang.

Mendengar kabar tersebut, Hasan Al-Bashri menjadi bersyukur dan ia segera mengutus seseorang untuk mengirimkan emas permata kepada orang yang mengghibahinya. Emas permata itu diwadahi oleh Hasan Al-Bashri di dalam sebuah baki tertutup seraya berpesan agar utusan tersebut berkata kepada si penerima hadiah itu sebagai berikut:

“Telah sampai kepadaku sebuah berita bahwa berbaik hati mengirim amal kebajikanmu kepadaku. Oleh karena itu, aku hadiahkan seluruh isi baki ini kepadamu.”

Dalam hal ini, tampak sekali bahwa Hasan Al-Bashri justru tidak marah ketika ia dighibahi oleh seseorang. Ia malah bersyukur atas perbuatan orang lain yang membicarakan tentang kekurangan dirinya. Sebab ia menyadari betul, bahwa dibalik itu semua, ia justru bakal memperoleh banyak pahala kebajikan secara gratis.

Ibnu al-Jauzi menulis sebuah buku setebal seratus halaman tentang kehidupan dan kebiasaannya dengan judul Adab al-Syaikh al-Hasan Ibn Abil-Hasan al-Bashri. Ia menyebutkan sebuah riwayat bahwa, tatkala wafat, al-Hasan meninggalkan sebuah jubah wol putih yang telah ia pakai sendiri selama dua puluh tahun, baik di musim dingin atau di musim panas. Jubah tersebut masih dalam keadaan bagus, bersih, rapi dan tak ada kotoran. Hasan Al-Basri menegaskan hakikat tasawuf yang lurus, bukan menjauhi (kekayaan) dunia, tetapi mencari dunia dengan jalan yang benar-benar suci, karena harta bukanlah tujuan tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

7. Imam Al-Laits bin Sa’ad (Wafat 175 H)

Nama lengkap Laits bin Sa’ad adalah al-Imam Abu al-Harits al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman al-Fahmi. Julukan  Abu al-Harits adalah guru besar di negeri Mesir. Al-Fahmi adalah nisbat kepada Fahm, salah satu kabilah dari Qais ‘Ailan yang asalnya adalah Ashfahan. Imam al-Laits lahir di Mesir, tepatnya di kampung Qalasqandah, Propinsi Qalyubiyyah. Ia lahir pada bulan Sya’ban tahun 94 H. Ia  orang kaya dan dermawan.

Imam Laits adalah seorang Tabi’ Tabi’in. Sang zahid adalah salah seorang periwayat hadits yang cukup terkenal. Para ulama sepakat akan amanah, ketinggian derajat dan kedalaman ilmu beliau dalam bidang fikih dan hadits. Pada zamannya, beliau adalah ulama tingkat tinggi dan paling berpengaruh di Mesir. Dia seorang periwayat hadits yang terkenal.

Al-Laits sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi selalu menjauhi tadlis dalam periwayatannya. Para Ulama telah menetapkan bahwa sanad paling shahih di Mesir adalah yang diriwayatkan oleh Al-Laits bin Sa’ad, dari Yazid bin Abi Habib. Dan yang meriwayatkan darinya antara lain: Abdullah bin al-Mubarak dan Abdullah bin Wahab.

Imam al-Laits adalah orang yang terhormat, dermawan dan cerdas. Ia adalah orang yang kaya dan banyak memberi bantuan. Imam Syafi’i, ketika datang ke Mesir dan berziarah ke kubur beliau, berkata, “Tidak ada yang lebih menyedihkanku dari kehilangan Ibnu Abi Dzi’b dan Laits bin Sa’ad”. Hal ini karena Imam Syafi’i tidak bertemu dengan Imam al-Laits sehingga tidak sempat berguru pada beliau. Dikisahkan juga bahwa pada suatu hari Imam Syafi’i berdiri di sisi kubur Imam Al-Laits seraya berkata, “Demi Allah wahai Imam, engkau telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki ulama lainnya; ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan”. Diriwayatkan pula bahwa menurut Imam Syafi’i dan Ibnu Bukair, Imam al-Laits bin Sa’ad lebih dalam ilmu fikihnya dari Imam Malik, hanya saja murid-murid beliau tidak menghargainya. Oleh karena keteledoran murid-muridnya inilah mazhab beliau hilang, terlebih lagi dengan bertambah banyaknya murid-murid Imam Malik dan Imam Syafi’i.

Imam al-Laits adalah salah seorang hamba yang mendapatkan anugerah kekayaan melimpah dari Allah SWT. Disebutkan bahwa pendapatannya pertahun adalah 100.000 dinar. Walaupun demikian, limpahan harta ini tidak membuatnya silau oleh dunia, menumpuknya atau pelit dan hanya untuk kepentingan pribadi. Bahkan sebaliknya, banyak riwayat dan referensi yang menyebutkan walaupun dengan pemasukan yang demikian besar, Imam al-Laits tidak pernah berkewajiban mengeluarkan zakat. Tentang hal ini Muhammad bin Abdul Hakam pernah berkata; “Setiap tahun Imam al-Laits mendapatkan pemasukan lebih dari 80 ribu dinar, akan tetapi beliau tidak pernah berkewajiban membayar zakat. Hal ini karena sebelum mencapai satu tahun (haul) pemasukan yang beliau peroleh telah beliau infak-kan dan sedekah-kan”.

Berapa penghasilan Al Laits per hari? Muhammad bin Ramh salah seorang sahabatnya berkata, “80 ribu dinar dalam setahun.” Atau setara dengan 128 milliar rupiah. Riwayat lain menyebutkan 100 ribu dinar per tahun. Itu artinya setiap hari ia berpenghasilan sekitar 219 dinar yang setara Rp 350,400,000. Penghasilan yang sangat fantastis. Terlebih di zaman itu, dimana dunia bisnis , belum seberagam dan sehebat sekarang.

Dikisahkan juga bahwa, ketika Imam Al-Laits pergi ke Madinah Munawwarah, beliau menghadiahkan seribu dinar kepada Imam Malik. Lalu seseorang bertanya kepada beliau, “Mengapa pemberian Anda lebih besar dari pada pemberian Khalifah?” Beliau menjawab: “Saya tidak suka bila pemberian saya kepada Imam Malik lebih kecil dari pemasukan saya perhari”.

Adapun tentang kezuhudan faqih besar ini Yahya bin Bukair, salah seorang muridnya berkata: “Saya pernah menyaksikan orang-orang fakir berdesak-desakan di depan rumah Imam al-Laits bin Sa’ad. Lalu beliau membagi-bagikan sedekah kepada mereka, hingga tidak ada seorang pun yang tidak memperoleh bagian. Setelah itu beliau bersama saya mengantarkan sedekah ke tujuh puluh rumah janda. Setelah sampai di rumah, beliau menyuruh salah seorang pembantunya untuk membeli minyak dan roti dengan uang satu dirham. Ketika saya datang ke rumah beliau, saya melihat empat puluh tamu telah berada di dalam rumah beliau. Mereka dijamu dengan daging dan manisan. Setelah si pebantu datang, saya tanyakan kepadanya: “Untuk siapa roti dan minyak yang engkau beli ini?” Pembantu tersebut menjawab, “Imam al-Laits menghidangkan daging dan manisan kepada para tamu, akan tetapi saya melihat beliau hanya makan roti dengan minyak saja”.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Khalifah Harun al-Rasyid memanggil Imam al-Laits agar memberikan fatwa untuk memutuskan perselisihan antara dia dan istrinya, Zubaidah. Kemudian beliau memfatwakan agar khalifah rujuk kepada istrinya kembali. Setelah itu khalifah memberikan hadiah kepada beliau sebesar lima ribu dinar, akan tetapi beliau menolaknya dan berkata kepada khalifah, “Berikan uang ini kepada orang-orang yang lebih membutuhkannya”.

Kedermawanan, keluhuran dan kealiman Imam Laits menurun juga pada putranya Syu’aib bin al-Laits. Ia termasuk ulama besar dan terhitung sebagai muhaddits. Ibnu Abi Dunya berkata: “Pada suatu tahun Syu’aib bin al-Laits menunaikan haji. Di sana ia banyak bersedekah. Hal ini membuat banyak orang terheran-heran dan bertanya pada seorang alim yang kenal dengan putra Imam Laits ini. Si alim itu menjawab : “Ini adalah seorang alim, anak seorang alim yang dermawan dan anak seorang dermawan.

Setelah ayahnya wafat ia cukup kekurangan materi lalu ia pergi ke Syam dan masuk ke Damaskus. Kemudian ia didatangi seseorang seraya berkata: “Saya adalah hamba ayahmu. Harta niaga ayahmu ada padaku sebesar dua ribu dinar dan saya sekarang masih sebagai budak. Maka jika engkau menghendaki ambil-lah harta ayahmu dan bebaskan-lah saya, atau jika tidak maka juallah saya”. Kendati dalam kondisi kekurangan finansial ternyata Syu’aib berkata : “Kamu sekarang merdeka dan uang yang ada bersamamu adalah pemberian untukmu”. Demikian mulia putra alim besar ini Al-Khathabi mengomentari, “Saya tidak tahu siapakah yang lebih mulia, apakah sang hamba dalam pengakuannya tentang harta tersebut, ataukah sang tuan ketika membebaskannya dan memberinya harta sebanyak itu”.

Begitulah, ketika kecerdasan, keluasan ilmu dan kekayaan harta serta keluhuran akhlak menyatu dengan pemahaman yang benar terhadap harta dan dunia, maka ia pasti akan melahirkan kebaikan.

8. Imam Abu Hanifah (80-150H)

Ia adalah  an-Nu’man bin Tsabit bin al-Marzuban yang dikenal dengan nama Abu Hanifah, orang yang pertama kali menyingkap keutamaan dan keistimewaan yang ada dalam ilmu fiqih. Abu Hanifah memuliakan ilmu dan dirinya dari hal demikian, ia bertekad untuk hidup dari hasil jerih payahnya sendiri, sebagaimana ia juga bertekad agar tangannya selalu di atas (selalu memberi).

Abu Hanifah mendapati masa akhir kekhilafahan Bani Umayyah dan awal masa pemerintahan Bani Abbas. Ia hidup di sebuah masa yang mana para penguasa sering menghadiahkan harta kepada orang-orang yang berjasa kepada negara, mereka sering mendapatkan harta yang sangat banyak tanpa mereka sadari.

Akan tetapi Abu Hanifah memuliakan ilmu dan dirinya dari hal demikian, ia bertekad untuk hidup dari hasil jerih payahnya sendiri, sebagaimana ia juga bertekad agar tangannya selalu di atas (selalu memberi).

Abu Hanifah meyakini bahwasanya tidaklah seseorang makan satu suap lebih suci dan lebih mulia dari hasil jerih payahnya sendiri. Oleh karena itu, kita mendapati bahwa sebagian hidupnya adalah untuk berniaga. Ia berdagang al-Khiz (tenunan dari sutera dan bulu) dan bermacam pakaian yang terbuat darinya. Ia berdagang pulang pergi dari kota ke kota yang berada di Iraq. Ia memiliki sebuah toko terkenal yang didatangi oleh banyak pengunjung karena mereka mendapati Abu Hanifah sebagai orang yang jujur dan amanah, di samping, mereka juga mendapatkan barang yang bagus di tokonya.

Dari perdagangannya tersebut Abu Hanifah diberi anugerah oleh Allah berupa kekayaan yang melimpah. Jika sampai masa satu tahun dari perdagangannya ia menghitung seluruh laba dan kemudian mengambil dari laba tersebut apa yang mencukupinya, setelah itu sisanya ia belikan barang-barang kebutuhan bagi para Qari, ahli hadits, ulama fiqih dan para penuntut ilmu dan juga membelikan makanan dan pakaian bagi mereka. Kemudian setiap dari mereka diberi sejumlah uang seraya berkata, “Ini adalah laba dari barang dagangan kalian yang diberi oleh Allah melalui tanganku, Demi Allah aku tidaklah memberi kalian sedikitpun dari hartaku, akan tetapi ia adalah karunia dari Allah bagi kalian melalui tanganku. Tidaklah seseorang memiliki daya untuk mendapatkan rizki kecuali dari Allah.” Kabar tentang kedermawanan Abu Hanifah telah tersebar di timur dan barat, khususnya di kalangan para sahabat dan teman dekatnya.

Pada suatu hari, Abu Hanifah melihat baju yang sudah usang sedang dipakai oleh salah seorang teman dekatnya. Ketika orang-orang-orang telah pergi dan tidak ada seorangpun di tempat itu kecuali mereka berdua, Abu Hanifah berkata kepadanya, “Angkat sajadah ini dan ambillah apa yang ada di bawahnya.” Maka temannya mengangkat sajadah tersebut, tiba-tiba ia menemukan di bawahnya seribu dirham. Kemudian Abu Hanifah berkata, “Ambil dan perbaikilah kondisi dan penampilanmu.” Akan tetapi temannya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku seorang yang mampu (berkecukupan) dan sungguh Allah telah memberiku nikmat-Nya sehingga aku tidak membutuhkan uang tersebut.”

Berkata Abu Hanifah, “Jika Allah telah memberimu nikmat, maka di mana bekas dan tanda nikmat-Nya itu? Tidakkah sampai kepadamu bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya.” Karena itu, seyogyanya kamu memperbaiki penampilanmu agar temanmu ini tidak sedih melihatnya.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan kebaikannya kepada orang lain telah sampai pada taraf di mana bila ia memberikan nafkah kepada keluarganya, maka ia pun mengeluarkan jumlah yang sama untuk orang lain yang menghajatkannya. Dan jika ia memakai baju baru maka ia akan membelikan orang-orang miskin baju yang seharga dengan baju barunya. Jika dihidangkan makanan di hadapannya, maka ia akan mengambil dua kali lipat dari apa yang biasa ia makan kemudian ia berikan kepada orang fakir.

Di antara hal yang diriwayatkan darinya adalah janjinya yang tidak akan bersumpah atas nama Allah di sela-sela perkataannya kecuali ia akan bersedekah dengan satu dirham perak. Kemudian lama-kelamaan janji pada dirinya itu ditingkatkan menjadi satu dinar emas. Sehingga setiap ia bersumpah atas nama Allah maka ia akan bersedekah sebanyak satu dinar.

Hafsh bin Abdur Rahman merupakan relasi dagang Abu Hanifah dalam sebagian perniagaannya. Ia menyiapkan barang-barang dagangan berupa al-Khizz dan mengirimnya bersamanya (Hafsh) ke sebgian kota yang ada di Iraq. Pada suatu waktu beliau menyiapkan untuk dibawa Hafsh barang dagangan yang banyak dan memberi tahu kepadanya bahwa di antara barang-barang tersebut ada yang cacat, ia berkata, “Apabila kamu mau menjualnya maka terangkanlah kepada pembeli tentang cacat yang ada pada barang tersebut.”

Maka kemudian Hafsh menjual semua barang yang dititipkan dan ia lupa untuk memberi tahu sebagian barang yang ada cacatnya kepada para pembeli. Ia telah berupaya mngingat-ingat orang-orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, tetapi tidak berhasil. Maka tatkala Abu Hanifah tahu akan hal itu dan tidak mungkinnya mengenali orang-orang yang telah membeli barang yang cacat itu, hatinya tidak tenang sampai ia bersedekah dengan harga semua barang yang diperdagangkan oleh Hafsh.

Di samping semua sifat yang telah disebutkan di atas, ia juga seorang yang baik dalam bergaul dengan orang lain, teman dekatnya akan merasa bahagia bila bersamanya dan orang yang jauh darinya tidak akan merasa tersakiti bahkan musuhnya sekalipun. Salah seorang sahabatnya pernah berkata, aku telah mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata kepada Sufyan ats-Tsauri, “Wahai Abu Abdillah, betapa jauhnya Abu Hanifah dari sifat menggunjing, aku sama sekali tidak pernah mendengar ia berkata tentang kejelekan musuhnya.” Maka Abu Sufyan berkata, “Sesungguhnya Abu Hanifah sangat waras sekali sehingga tidak mungkin melakukan hal yang dapat menghapus kebaikan-kebaikannya.”

Abu Hanifah adalah orang yang pandai mengambil hati manusia dan berusaha keras untuk melanggengkan persahabatan dengan mereka. Seperti diketahui bahwasanya jika saja ada orang asing yang duduk di majlisnya tanpa ada maksud dan keperluan, maka jika orang itu hendak pergi ia bertanya kepadanya, apabila orang itu mempunyai kebutuhan maka ia akan membantunya dan apabila sakit ia akan menjenguknya sampai orang itu menjadi teman yang dekat dengannya.

Di samping yang telah disebutkan itu semau, ia juga adalah seorang yang banyak berpuasa dan bangun malam (untuk shalat), berteman dengan al-Qur’an serta beristighfar meminta ampunan Allah pada penghujung malam.

Dan di antara sebab ketekunannya dalam beribadah dan semangatnya adalah karena pada suatu waktu ia bertemu dengan sekelompok orang, lalu ia mendengar mereka berkata, “Sesungguhnya orang yang kamu lihat ini tidak pernah tidur malam.” Maka, begitu telinganya menangkap apa yang mereka katakan itu, berkatalah ia di dalam hati, “Sesungguhnya diriku di sisi manusia berbeda dengan apa yang aku lakukan di sisi Allah. Demi Allah, sejak saat ini tidak boleh ada lagi orang yang berkata tentangku apa yang tidak aku lakukan. Aku tidak akan tidur di malam hari hingga aku menjumpai Allah (wafat).”

Kemudian mulai hari itu, ia menghidupkan seluruh malamnya dengan beribadah kepada Allah. Di saat malam telah menjelang dan punggung telah menuju ke peraduan (tenggelam dalam tidur), ia bangun malam lalu memakai pakaian yang paling bagus, merapikan jenggot, memakai minyak wangi dan berhias, kemudian menuju mihrabnya dan mulai menghidupkan malam dengan khusyu’ beribadah kepada Allah, larut dalam membaca al-Qur’an atau berdoa menengadahkan tangannya kepada Allah dengan penuh ketundukan.

Bisa jadi, ia membaca al-Qur’an 30 juz dalam satu rakaat atau mungkin saja ia menghidupkan seluruh malamnya dengan satu ayat saja.

Di dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya pada suatu malam, ia menghidupkan seluruh malam dengan mengulang-ulang firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya, “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.” (al-Qamar:46) Sembari menangis tersedu-sedu, sebuah tangisan yang mengiris hati.

Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang melakukan shalat Shubuh dengan wudhu shalat ‘Isya selama empat puluh tahun, tidak pernah sekal pun ia meninggalkan kebiasaan itu. Demikian juga, ia dikenal sebagai orang yang menghatamkan al-Qur’an di satu tempat di mana ia meninggal sebanyak 7000 kali.

9. Abdullah bin Al-Mubarak Al-Marwazi (wafat tahun 181 H)

Beliau adalah imam besar yang ternama dari kalangan atba’ut tabi’in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Ibnu Hajar berkata, “Beliau adalah seorang yang terpercaya lagi sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), orang yang memiliki ilmu dan pemahaman (yang dalam), sangat dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala), terkumpul padanya (semua) sifat-sifat yang baik.”

Barangkali diantara sekian banyak ulama kaya yang kita kenal dari generasi tabi’it tabi’in, lelaki inilah yang paling kaya. Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa modal bisnisnya mencapai 400 ribu dinar. Dengan harga 1,6 juta rupiah per dinar sekarang ini, itu artinya ia memiliki modal usaha sebesar 640 milliar rupiah.

Modal itu ia kelola dengan melakukan beragam bisnis di beberapa negeri yang ia kunjungi. Dari bisnis perniagaannya itu, ulama satu ini mendapatkan keuntungan yang berlipat. Terkadang 100 ribu dinar. Harta kekayaannya pun terus melimpah ruah.

Dalam biografi beliau disebutkan bahwa Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertanya kepadanya tentang sebab dia memliki perniagaan besar dengan mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke “tanah haram” (Mekkah). Maka, Abdullah bin Al-Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku melakukan itu adalah untuk menjaga mukaku (agar tidak meminta-minta kepada orang lain), memuliakan kehormatanku, dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah.”

Ucapan beliau ini benar-benar terbukti, karena beliau sangat terkenal dengan sifat dermawan, membantu orang miskin dengan sumbangan harta yang sangat besar setiap tahun, serta membiayai semua perbekalan orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersama beliau.

Sebuah pelajaran berharga bagi kita tentang sikap dan perilaku yang benar seorang muslim, yaitu ketika ia didatangi salah seorang sahabatnya, Abu Ali, yang mengira bahwa antara zuhud dan bisnis tak akan bisa menyatu dalam diri seseorang. Abu Ali bertanya,”Engkau mengajari kami untuk berlaku zuhud, tapi kami melihatmu selalu sibuk membawa banyak barang dagangan dari Khurasan ke Tanah Suci. Bagaimana ini?”

Dan simaklah jawabannya berikut ini, “Wahai Abu Ali, aku melakukan ini hanya untuk menjaga wibawaku, memuliakan kehormatanku dan menjadikannya sarana untuk memperkuat ketaatanku pada Allah swt. Tidak satu pun hak  Allah yang aku ketahui, kecuali aku segera menunaikannya.”

Dia sangat dermawan dan pemurah. Ia menafkahi para fakir miskin 100 ribu dirham pertahun. Ia juga membiayai segala keperluan dan kebutuhan hidup para pencari ilmu. Karena menurut Ibnu Mubarak, “Jika kita menelantarkan para pencari ilmu tentu ilmu mereka akan hilang. Namun, jika kita membantu mereka, mereka akan menyebarkan ilmu kepada umat Muhammad saw. Aku tidak mengetahui ada amal kebaikan yang lebih utama setelah kenabian selain menyebarkan ilmu.”

Termasuk kedermawanan beliau yang paling utama adalah menanggung biaya hidup beberapa imam besar ahli hadits di zamannya, seperti Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh,[54] agar mereka bisa lebih berkonsentrasi menyebarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat. Beliau berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kemuliaan suatu kaum (para ulama ahli hadits) yang memiliki keutamaan dan kejujuran. Mereka (menyibukkan diri dengan) mempelajari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar dan sungguh-sungguh. Kemudian (setelah itu) kebutuhan umat Islam kepada mereka sangat mendesak (untuk mengenal petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), sedangkan mereka sendiri punya kebutuhan (untuk membiayai kelurga mereka). Jika kami tidak membantu (menanggung biaya hidup) mereka maka ilmu mereka akan sia-sia (tidak tersebar dengan baik), tetapi kalau kami mencukupi (biaya hidup) mereka maka mereka (bisa lebih berkonsentrasi) menyebarkan ilmu kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tidak mengetahui -setelah kenabian-, tingkatan/kedudukan yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu (tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Itulah pribadi Abdullah bin Mubarok. Dan begitulah perjalanan hidup seorang ulama terkemuka yang juga  disebut sebagai imamnya ahli zuhud. Zuhud tapi kaya hati, kaya harta, kaya ilmu pengetahuan dan kaya perjuangan. Sosoknya yang istimewa sangat layak untuk kita jadikan cermin dalam memperbaiki dan mengevaluasi diri.

 

Daftar Pustaka:

Imam Adz-Zahabi, Siyaru A’lamin Nubala

Ali Fikri, Ahsan al-Qasas, Jil. 4, Bairut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, t.t.

Moh. Ali al-Sayis, Tarīkh Fiqh al-Islami, Bairut: Dār al-Fikr al-Mu’āsir, 1999.

Al-Imam Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Taqribut Tahdzib

Al-Imam Al-Mizzi, Tahdzibul Kamal

Syeikh Muhammad Hisyam Al Kabbani, Tasawuf dan Ihsan

Dr. Abdurrahman Ra`fat al-Basya,  Hayaah at-Taabi’iin, Jld.VI, h.127-144

Al-Shairazi, al-Muhazzab,  Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt, jil. 1.

Al-Muslim, Shahih Muslim, jil. 1,  ter., Bandung: Syarikat al-Ma’arif li al-Ta’lif wa al-Nasr, tt.

Al-Nawawi, al-majmu ‘’Ala Sarh al-Muhaddab, Jil. 9.

Moh. Al-Hudhāri, Tarīkh al-Tashrī’ al-Islāmī,  Kairo: Matba’at Dar ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyah, 1981.

Hepi Andi Bustoni, 101 Sahabat Nabi, Pustaka Al Kautsar, 2002.

Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A., Pengusaha Sukses Dunia dan Akhirat, Mungkinkah?, Artikel www.pengusahamuslim.com, Kota Kendari, 17 Dzulqa’dah 1431

Ummi Alhan Ramadhan Mazayasyah, Mutiara Hikmah, Kisah Para Kekasih Allah, Penerbit Darul Hikmah

Muhammad Abduh Tuasikal, Kaya Hati, Itlah Kaya Senyatanya, Artikel Majalah Pengusaha Muslim, dipublish ulang oleh www.rumasyho.com, Panggang-GK, 1 Jumadits Tsani 1431 H (14/05/2010)

Berguru pada Ulama-ulama Kaya, Majalah Tarbawi  edisi 246 tahun 2012

——————————————————————

pada 17/12/2012 harga

1 dinar = Rp2.293.221

1 dirham = Rp71.884)

——————————————————————

Filed under: AkhlaqInvestasi emasKisahMotivasiTarbiyah

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!