Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Anda pasti melihat bahwa manusia itu jauh lebih mulia dari penilaian yang pernah dikenal manusia, baik dahulu maupun sekarang. Mereka yang hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah manusia yang mendapatkan tiupan ruh (nyawa) dari Allah.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka mereka (malaikat) tunduk kepadanya dengan bersujud (QS. Al-Hijr : 29)

Maka dengan tiupan itu pula, manusia berhak menjadi Khalifah-Nya di muka bumi.

Dan ingatklah ketika Rob (Tuhan Pencipta)mu berkata kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menjadikan khalifah di muka bumi…..” (QS. AL-Baqarah : 30).

Lalu Dia menundukkan bagi manusia apa saja yang ada di lngit dan di bumi.

Dan Dia menundukkan bagimu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiyah : 13)

Dengan begitu hebatnya kemualiaan dan ketinggian yang dianugerahkan kepada Manusia, Allah telah menjadikan sebuah ikatan yang bersumber dari tiupan ilahiyah yang amat mulia. Itulah iakatan AQIDAH FILLAAH. Sebab itu, akidah orang beriman (mukmin) adalah tanah air dan kebangsaannya serta keluarganya. Di atas akidah sajalah manusia berhimpun. Bukan seperti berhimpunnya hewan yang dilandasi kepentingan rumput dan tempat gembala.

Sesungguhnya orang Muslim itu memiliki hubungan keturunan yang jauh terbentang ke belakang. Ia adalah salah seorang dari kafilah mulia itu yang membimbing langkahnya bersama kelompok yang mulia pula, yaitu para nabi; Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Musa, Isa ,dan Muhammad ’alaihimush-sholatu wassalam.

Dan sesungguhnya ini adalah umatmu sebagai umat yang satu dan Aku adalah Rob (Tuhan Pencipta-Mu). Maka bertakwalah pada-Ku. (QS. Al-Mukminun : 52)

Lewat kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an, akan nyata di hadapan Anda bahwa kafilah yang mulia yang membentang sejak masa yang amat jauh sebelumnya menghadapi kondisi-kondisi yang mirip. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qqur’an, ada pengalaman-pengalaman yang mirip sepanjang masa kendati berbeda waktu, tempat dan kaum. Kafilah mulia itu selalu menghadapi kesesatan, kebutaan, hawa nafsu, penindasan, kezaliman, intimidasi dan pengusiran. Namun demikian, kafilah mulia tetap berjalan di atas jalan yang permanen (tsabit), dengan hati yang tenang seraya tsiqah (yakin) meraih pertolongan Allah, terikat setiap saat pada roja’ (harapan) akan terjadinya janji Allah yang Maha Benar.

Dan orang-orang kafir itu berkata kepada para Rasul mereka: Kami pasti mengusir kalian dari bumi (negeri) kami, atau kalian kembali ke dalam agama kami. Maka Rab (Tuhan Pencipta) mereka memberikan wahyu kepada mereka: Kami pasti membinasakan orang-orang zalim itu, dan Kami menempatkan kamu di negeri itu setelah (kehancuran) mereka. Yang demikian itu (balasan) bagi orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (QS Ibrahim : 13 – 14)

Demikianlah Al-Qur’an menyebutkan satu sikap, satu pengalaman, satu ancaman, dan satu keyakinan. Janji Allah hanya satu bagi kafilah yang mulia ini. Akhir (ending)-nya juga satu yang ditunggu-tunggu kaum Mukminin pada akhir perjalanan saat mereka menghadapi tekanan, intimidasi dan ancaman.

Filed under: MotivasiTarbiyahTsaqofah

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!