abdillahmt.com-optimalisasi-amalAlkisah, tersebutlah bahwa seseorang bekerja di sebuah perusahaan properti. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun ia terus bekerja dengan giat di perusahaan itu. Dan ia “menghabiskan” umurnya di perusahaan itu. Tanpa terasa, umurnya pun semakin menua, dan pisiknya tidak sekuat dulu lagi. Karena keadaannya itulah maka ia mengajukan surat pensiun dari perusahaan tersebut.

Pihak perusahaan akan menerima surat pengajuan pensiunnya tersebut dengan satu syarat, yaitu hendaklah ia membuat rumah satu unit lagi dan setelah itu ia diperbolehkan untuk pensiun. Maka ia pun dengan terburu-buru menyelesaikan “order” terakhir itu, dengan harapan segera menyelesaikannya agar ia segera pensiun.

Karena mengerjakan pembuatan rumah itu dengan terburu-buru, tentu saja kualitas rumah yang dibangunnya tidak sekokoh dan seindah rumah-rumah yang ia bangun sebelumnya.

Setelah pembangunan rumah itu selesai, maka ia pun menyerahkan kunci rumah ke perusahaan tempat ia bekerja.

Tanpa dia duga, pihak perusahaan berkata: “Rumah terakhir itu adalah hadiah perusahaan untuk dirimu”.

Seketika lemaslah sekujur tubuh pak tua, betapa tidak, kalau saja ia mengetahui hal itu, tentulah rumah itu akan ia buat sekokoh dan seindah mungkin. Tetapi … penyesalan memang selalu di belakang, saat seseorang tidak dapat lagi memperbaiki apa yang sudah terjadi.

Saudaraku…

Begitulah kira-kira kita dengan amal “ukhrawi” kita. Banyak diantara kita yang dalam melaksanakan amalannya dilakukannya secara terburu-buru, tidak maksimal, kurang memenuhi syarat dan rukun serta adab-adanya, padahal bukankah seluruh amal itu akan menjadi hadiah untuk diri kita kelak di akhirat?

Bukankah Allah SWT Maha Kaya, sehingga Dia tidak memerlukan amal kita, justru kitalah yang memerlukannya?

Oleh karena itu wahai Saudaraku..

Marilah perbaiki amal kita, lakukan dengan penuh penghambaan kepada Allah SWT, penuhi syarat, rukun dan adab-adabnya, agar kelak menjadi “hadiah” yang kokoh nan indah di akhir kehidupan kita.

——————————————————-
By: Ustd. Musyafa Ahmad Rahim (ditulis dari taujih Syekh ‘Isham Asy-Syayi’)

Anda dapat juga membaca artikel sebelumnya tentang ALLAH tidak Adil… Benarkah?

Filed under: AkhlaqAqidahKisahMotivasiRenunganTarbiyah

Like this post? Subscribe to my RSS feed and get loads more!